
laskar_pelangi_the_movie
Lain ladang, lain ilalang - lain novel, lain film. Masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan. Novel mempunyai ruang, waktu dalam bercerita sedangkan film paling lama hanya tiga jam itupun jarang sekali namun film banyak menampilkan rangsangan-rangsangan pada indera kita. Respon dan reaksipun beragam dan berbeda.
Setelah mudik dari kampung halaman, saya akhirnya menyempatkan diri untuk mengajak istri menonton film terbaru yang diangkat dari novel best seller Andrea Hirata “Laskar Pelangi”. Saya sebenarnya sudah membaca novelnya namun saya penasaran dengan filmnya, apakah akan berakhir sama dengan ketidakpuasan saya terhadap film-film lain yang diangkat dari sebuah novel.
Dalam film tersebut saya merasa ada perbedaan dan saya agak dibuat meloncat-loncat memutar otak “ini bagian yang mana? Koq begini sih?”. Namun tidak memungkiri kadang saya dibuat kagum dengan tingkah bocah-bocah belitung ini, dan suasananya. Dan menurut saya setting tempat dan pemilihan karakter cukup pas, meskipun hanya beberapa karakter saja yang menonjol yaitu Ikal, Mahar, Lintang, Bu Mus, dan Pak Harfan sesuai novelnya.
Ada beberapa bagian yang saya suka dalam film ini diantaranya ketika Ikal jatuh cinta pada anak pedagang Toko Sinar Harapan, A Ling. Adegan ketika Ikal melihat kuku-kuku cantik A Ling yang kemudian diberi efek sinar dan bunga-bunga mekar yang sangat pas dengan suasana hati Ikal saat itu. Saya terpingkal-pingkal dibuatnya. Kemudian sampai pada saat ketika Ikal patah hati ketika tahu A Ling pergi ke Jakarta. Ikal diam seribu bahasa bahkan pada film tersebut digambarkan barang dagangan di toko pada jatuh semua dan kotak kapur jatuh berantakan sangat pas sekali. Sekali lagi saya tertawa kencang. Bahkan si Mahar menyanyikan lagu bunga seroja untuk Ikal, lucu banget, dengan polosnya laskar pelangi yang lain ikut menari “kosidahan”. Saya ingat lagu ini sangat disukai Mertua saya, bahkan keponakan saya yang masih umur belum genap 3 tahun bisa menyanyikan, maklum Mertua saya dari Melayu.
Kemudian Mahar, seniman kecil yang suka sekali mendengarkan musik di radio, terutama jazz. Hanya dengan model menjemur baterai yang sudah habis di atap sekolah Mahar bisa mendengarkan radio terus menerus tanpa harus membeli baterai baru, sungguh cerdik. Mahar adalah kunci kesuksesan SD Muhammadiyah untuk pertama kali yaitu ketika lomba karnaval. Hanya dengan modal daun, buah gatal yang dikalungkan, bocah-bocah laskar pelangi berhasil menyabet juara. Sungguh lucu menggelikan.
Lintang. Bocah pesisir yang pertama kali datang ke sekolah mendaftarkan diri untuk sekolah meskipun jauh sekali jarak rumahnya dengan sekolah SD Muhammadiyah. Karakter Lintang dari awal membuat saya dan istri tertegun, kagum. Bahkan pemerannya pas, klop menurut saya. Saya merasa karakter lintanglah yang paling menggetarkan hati, menggugah nurani, mengena sekali. Karakter seorang bocah pantang menyerah, mandiri, cerdas, menggantungkan cita-cita setinggi langit. Namun sayang ketika berhasil memperoleh piagam penghargaan atas prestasi juara cerdas cermat ayahandanya meninggal sewaktu melaut, maka Lintang pun harus putus sekolah karena harus menjadi tulang punggung bagi adik-adiknya karena dia yang tertua. Bahkan ketika Ikal sudah dewasa dan kembali ke Belitung untuk mengucapkan terima kasih kepada teman-temannya, Lintang tetap tidak berubah. Menjadi kuli namun tetap mempunyai semangat dan cita-cita yang tinggi yang kemudian menurun ke anaknya, cerdas.
Wah rasanya tidak cukup klo saya banyak bercerita disini, sebaiknya anda bergegas membeli tiket dan menonton di bioskop bersama istri, suami ataupun teman-teman anda agar suasanya menjadi lebih mengasyikkan.

SD Muhammadiyah

bocah-bocah laskar pelangi

Mahar

Lintang

Ikal

Karnaval Laskar Pelangi